Berita

BPBD Bali Bersama ITDC Dan Hardrock Hotel Sebagai Narasumber Dalam Diskusi Yang Digelar BNPB

Jakarta,Harnasnews.com – Sebagai destinasi pariwisata dunia, Bali harus siaga bencana. BPBD Bali menyebutkan Pulau Dewata adalah yang terbaik untuk kesiapsiagaan bencana, bahkan telah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Berada di kawasan ring off fire dan gunung api (Gunung Agung – Karangasem), Bali telah siap siaga terhadap bencana alam. BPBD Bali dan segala elemen wisata di Bali saling bahu membahu dalam menyikapi dan mengantisipasi bencana.

Hal ini diungkapkan Made Rentin, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali dalam kegiatan *”Diskusi Kesiapsiagaan Bencana Sektor Perhotelan untuk Industri Pariwisata,”* Senin (6/5/2019) di Ruang Auditorium Lantai 15 Gedung Graha BPNB, Jalan Raya Pramuka Nomor 38 Jakarta Timur.

“Bali merupakan kawasan terbaik di dunia dalam pengelolaan kesiapsiagaan bencana. Ini sangat penting karena demi kenyamanan para turis yang datang ke Bali. Setiap turis yang datang selalu bertanya kepada pihak manajemen hotel, apakah sudah memiliki sertifikat kesiapsiagaan ? Dari pertanyaan itu terlihat bahwa mereka para turis manca negara sadar akan bencana,” ungkap Made Rentin. Bahkan menururnya sertifikasi menjadi hal yang berpengaruh dalam kunjungan turis manca negara ke Bali.

Ada 4 (empat) komponen pendekatan yang dilakukan untuk mengelola dunia pariwisata di Bali sehingga timbul kenyamanan bagi turis.

“Ada 4 pendekatan strategis yang kita gunakan untuk mengelola pariwisata Bali, pertama security menjelaskan bahwa Bali itu aman. Kedua safety Bali itu nyaman, ketiga surety memberi keyakinan bahwa Bali itu pasti aman dan nyaman. Dan terakhir keempat adalah peace bahwa Bali itu penuh kedamaian.

Empat komponen itu yang disampaikan kepada turis melalui  hospitality dan sertifikasi siaga bencana ini.

Bali tidak memiliki kekayaan alam, tambang, mineral atau batu bara seperti daerah lain. Lebih lanjut Made menjelaskan, “jika dipersentasekan Bali hanya memiliki 20 % kekayaan alam, 15 % budaya, dan 65 % masyarakat yang ramah tamah, jadi daya tarik utama pariwisata Bali adalah lebih dominan pada keramah tamahan krama Bali yang dibalut dengan budaya yang sangat kental,” tegas Made Rentin.

Kalaksa BPBD Provinsi Bali yang juga dipercaya memangku jabatan sebagai Plt. Kadispora Provinsi Bali juga mengungkapkan bahwa Bali telah mendeklarasikan Hari Simulasi Bencana tiap tanggal 26 setiap bulannya. Hal ini dilakukan untuk melatih diri untuk selalu siap siaga. “Jadi setiap tanggal 26 tiap bulan, semua komponen pada semua tingkatan, termasuk instansi pusat yang ada di Bali, dan sampai ke tingkat terbawah yaitu Desa, akan melaksanakan simulasi evakuasi bencana,” ungkapnya.

Bapak Gubernur telah menetapkan dan mendeklarasikan hal itu pada saat kami memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tanggal 26 April 2019 yang lalu bertempat di Kawasan ITDC Nusa Dua. Tujuannya adalah untuk melatih diri agar selalu siaga dalam menghadapu bencana,” pungkas Rentin.

Mengingat topik utama diskusi adalah sertifikasi kesiapsiagaan bencana bagi hotel di Bali, Kalaksa BPBD Provinsi Bali menyampaikan materi mekanisme, tahapan, prosedur dan proses bagi sebuah hotel untuk mendapatkan sertifikat. “Kami punya tim yang beranggotakan stakeholders terkait, mulai dari BMKG, SAR, TNI, POLRI, bahkan unsur lembaga adat,” ungkap Made Rentin.

Dalam pelaksanaan tugas, tim tersebut berpedoman pada juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis). Kami meyakinkan proses dari permohonan awal sampai terbitnya sertifikat tidak lebih dari 1 (satu) bulan. “Kami tegaskan ini semua free alias gratis, ” yang diikuti dengan tepuk tangan yang meriah dari peserta diskusi.

Managing Director ITDC Gusti Ngurah Ardika, juga hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa semua hotel di kawasan ITDC telah memiliki sertifikat kesiapsiagaan bencana. “Mulai bulan mei ini kami wajibkan tiap hotel untuk membuat display video singkat  safety breafing pada layar TV di tiap kamar hotel, jadi begitu turis masuk ke kamar hotel, langsung disajikan peringatan kesiapsiagaan, posisi, termasuk jalur evakuasi,” ungkap Ardika.

Ketut Sutaraja dari Hardrock Hotel Kuta, juga hadir memberi kejelasan bahwa sertifikat kesiapsiagaan sangat berpengaruh terhadap hunian hotel, dan kami tunduk kepada BPBD Bali untuk melakukan simulasi rutin setiap bulan. (rtn/Vidi)